Admin KCI

Turut bermudita atas rampungnya rangkaian aktivitas bajik Tolak Bala KCI 2024!

March 15, 2024 in aktivitas bajik, Daily news, kadam choeling indonesia, SAyS, tolak bala 2024, Turut bermudita

Berikut adalah daftar nama dedikasi yang terdaftar. Semoga kondisi baik berdatangan dan segala kondisi buruk diredakan bagi dunia, Indonesia, dan diri sendiri.

Lokāḥ Samastāḥ Sukhino Bhavantu,
Kadam Choeling Indonesia
Didukung oleh Saṅgata Āyu Sandhi (SAyS)

The post Turut bermudita atas rampungnya rangkaian aktivitas bajik Tolak Bala KCI 2024! appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

LAPORAN TRIWULAN OKT s.d. DES 2023

January 24, 2024 in Daily news, kadam choeling indonesia, Laporan Triwulan

KEMBALI MENOLEH KE TAHUN 2023 DENGAN PENUH MUDITA

Kita baru saja singgah di tahun 2024, mari menoleh sekilas benih-benih kebajikan yang telah kita tabur selama tahun 2023.

Spesial, rekapan benih-benih kebajikan 2023 ini disusun untuk kamu yang telah memperjuangkan kebajikan di bulan Oktober-Desember 2023 lalu.

Lihat kembali apa saja yang telah kamu lalui selama 3 bulan terakhir di tahun 2023 ini dan bangkitkan mudita sebagai penyemangatmu melangkah pada perjalanan di tahun 2024!

Yuk, cek story @kadamchoelingindonesia segera💕

Semoga semangat bajikmu terus menyala abadi hingga bisa menularkannya kepada lebih banyak orang lain lagi. Dengan demikian, semua setiap orang terus semangat melangkah dalam jalan kebajikan hingga pencerahan bisa diraih oleh tiap-tiap masing makhluk.

#kadamchoelingindonesia #laporantriwulan

Lokāḥ Samastāḥ Sukhino Bhavantu,
Kadam Choeling Indonesia

The post LAPORAN TRIWULAN OKT s.d. DES 2023 appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

Keluarga Besar KCI Membuka Tahun 2024 dengan Upacara Doa Umur Panjang bagi Sang Guru

January 19, 2024 in Daily news, Lukisan Y.M. Suhu Bhadra Ruci yang merupakan salah satu persembahan dalam Upacara Doa Umur Panjang.

Pada awal tahun 2024 sekaligus hari terakhir penyelenggaraan Indonesia Lamrim Retreat (ILR) 2023, yakni pada 1 Januari 2024, berlangsung Upacara Doa Umur Panjang (Cirasthiti Prārthana) untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci. Upacara yang berlangsung di Gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta Barat tersebut dihadiri oleh Sangha KCI, anggota tiap-tiap cabang Dharma Center di Indonesia, hingga para peserta ILR 2023. 

Upacara Doa Umur Panjang ini juga dikenal dengan istilah “Tenshug” di Tibet. Secara harfiah, “Ten” berarti kokoh dan stabil dan “Shug” berarti tetap tinggal, tetap berdiam. Upacara ini merupakan upacara yang paling khusus dan detil untuk memohon seorang Guru Spiritual berumur panjang dan tetap mengajarkan Dharma. Murid-murid akan mengumpulkan kebajikan agar kehidupan Sang Guru aman dan stabil atau dengan kata lain mengharapkan Sang Guru berumur panjang.

Upacara ini juga rutin diselenggarakan khususnya oleh umat Buddhis di Tibet dengan keyakinan bahwa para Guru Spiritual memiliki kekuatan untuk menentukan masa hidup dan kelahiran kembali mereka. Oleh karena itu, dengan Upacara Doa Umur Panjang ini, para murid memohon kepada Guru Spiritual agar terus berumur panjang demi semua makhluk hidup. 

Berangkat dari pemikiran dan keyakinan yang sama serta dorongan kebutuhan untuk selalu dibimbing oleh Gurunya, keluarga besar Kadam Choeling Indonesia (KCI) juga melakukan Upacara Doa Umur Panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci. Dengan upacara tersebut, diharapkan murid-murid Y.M. Suhu Bhadra Ruci tersebut memiliki himpunan kebajikan yang cukup untuk terus memiliki ikatan karma dengan Sang Guru. 

Keluarga besar KCI dengan khusyuk memohon umur panjang Y.M. Suhu Bhadra Ruci

Keluarga besar KCI dengan khusyuk memohon umur panjang Y.M. Suhu Bhadra Ruci

Upacara Doa Umur Panjang juga dilakukan dengan tulus oleh komunitas KCI untuk mengatasi segala penghalang umur panjang Y.M. Suhu Bhadra Ruci dan memohon agar Suhu berkenan untuk terus membimbing para murid-Nya dan semua makhluk mengarungi samsara hingga pencerahan benar-benar diraih. 

Hal ini selaras dengan pernyataan Kak Rudiyanto Tan selaku Ketua Panitia Usia Emas Suhu, “Nah acara Tenshug ini, upacara umur panjang 50 tahun untuk Suhu sebenarnya adalah salah satu usaha, salah satu sebab, yang kita dari sisi murid perlu lakukan supaya ya harapan kita bisa tercapai, supaya Suhu selalu bisa bersama kita, bisa lebih lama, dan kita punya kesempatan untuk berbenah.”

Terlebih lagi, pada Desember 2023 lalu, Y.M. Suhu Bhadra Ruci telah menginjak usia-Nya yang ke-50 tahun. Upacara Doa Umur Panjang sangat tepat dan mendesak untuk dilakukan. Berdampingan dengan Guru Puja serta Kenduri Persembahan untuk Indonesia: Upacara Penghaturan Gaṇacakra dan Pembagian Sembako untuk yang Membutuhkan, Upacara Doa Umur Panjang ini merupakan satu bagian rangkaian penghimpunan kebajikan untuk 50 tahun Y.M. Suhu Bhadra Ruci. 

Dipimpin oleh Andre, salah satu murid Y.M. Suhu Bhadra Ruci yang telah memperoleh abhiṣeka dan telah menjalani retret Tara Putih (Istadewata yang berkaitan dengan permohonan umur panjang), upacara berlangsung dengan khusyuk hingga akhir acara. 

Andre memimpin puja Upacara Doa Umur Panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci.

Andre memimpin puja Upacara Doa Umur Panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci.

Acara diawali dengan pelantunan puja “Guru Yoga kepada Lama Tsongkhapa”. Kemudian, dilanjutkan dengan pelantunan teks puja “Ritual Persembahan Upacara Umur Panjang untuk Ladang Khusus Berkenaan dengan Sang Cakrawati Pengabul Harapan Arya Tara Putih yang Dijabarkan dengan Jelas”. 

Menariknya, dalam upacara ini juga dipersembahkan berbagai objek-objek persembahan untuk permohonan umur panjang Guru, seperti mandala permohonan umur panjang Guru, rupang Tara perlambang tubuh Buddha, teks Dharma perlambang ucapan Buddha, stupa perlambang batin Buddha, roda Dharma, tujuh permata kerajaan, delapan tanda keberuntungan, delapan substansi keberuntungan, kamandalu, simbol lima keluarga, bir umur panjang, dan pil umur panjang.

Persembahan mandala umur panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci yang diwakilkan oleh Y.M. Tenzin Chograb, Y.M Tenzin Tringyal, dan Y.M. Yonten Gyatso.

Persembahan mandala umur panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci yang diwakilkan oleh Y.M. Tenzin Chograb, Y.M Tenzin Tringyal, dan Y.M. Yonten Gyatso.

Masing-masing persembahan umur panjang tersebut dibawa oleh para Gubernur Dharma Center dan beberapa murid Y.M. Suhu Bhadra Ruci. Persembahan akan diberikan kepada pemimpin puja untuk kemudian dihaturkan kepada Y.M. Suhu Bhadra Ruci dengan diiringi pelantunan bait-bait doa yang berkaitan dengan persembahan yang dihaturkan. 

Para Gubernur Dharma Center dan beberapa murid Y.M. Suhu Bhadra Ruci membawa persembahan umur panjang.

Para Gubernur Dharma Center dan beberapa murid Y.M. Suhu Bhadra Ruci membawa persembahan umur panjang.

Setelah Upacara Doa Umur Panjang berakhir, acara pun bergulir menjadi acara penghaturan persembahan untuk umur panjang Y.M. Suhu Bhadra Ruci berupa dua penampilan spesial. Penampilan pertama adalah persembahan lagu “Sang Baskara” karya Monica Hapsari dan Yushua Adi Putra dengan lirik lagu yang memiliki makna begitu dalam lengkap dengan alunan nada yang begitu syahdu. Penampilan kedua adalah persembahan pelantunan teks “Doa Umur Panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci” dalam bahasa Tibet oleh anak-anak kelas Tibet KCI yang mengundang banyak decakan kagum dan riuh tepuk tangan. 

Lirik lagu “Sang Baskara” untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci karya Monica Hapsari dan Yushua Adi Putra.

Lirik lagu “Sang Baskara” untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci karya Monica Hapsari dan Yushua Adi Putra.

Pelantunan teks “Doa Umur Panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci” dalam bahasa Tibet oleh anak-anak kelas Tibet KCI.

Pelantunan teks “Doa Umur Panjang untuk Y.M. Suhu Bhadra Ruci” dalam bahasa Tibet oleh anak-anak kelas Tibet KCI.

Semoga dengan rampungnya Upacara Doa Umur Panjang (Cirasthiti Prārthana) ini, Y.M. Suhu Bhadra Ruci dapat selalu sehat dan berumur panjang agar bisa terus membimbing para murid-Nya dan melanjutkan karya besar-Nya demi kemajuan Buddhis di Indonesia. Semoga juga ikatan Guru-murid antara kita dengan Suhu semakin kuat dan tak terpisahkan hingga pencerahan bisa kita raih. 

Lukisan Y.M. Suhu Bhadra Ruci yang merupakan salah satu persembahan dalam Upacara Doa Umur Panjang. 

The post Keluarga Besar KCI Membuka Tahun 2024 dengan Upacara Doa Umur Panjang bagi Sang Guru appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

LAPORAN TRIWULAN JULI s.d. SEPTEMBER 2023

October 31, 2023 in Daily news, kadam choeling indonesia, Laporan Triwulan, Mengembangkan Batin

Masih Ada Kesempatan Mengembangkan Batin di 2023 Ini, Yuk Tetap Semangat!

Biar kamu makin semangat mengembangkan batin, lihat dulu yuk kebajikan yang sudah kita lakukan pada bulan Juli-September ini. Turut bermudita, kita sudah berjalan sejauh ini.

Jangan menyerah ya, terus kobarkan semangat pencerahanmu demi semua makhluk!

Cek sekarang juga ya💕

Semoga batin kita dan semua makhluk bisa semakin berkembang setahap demi setahap hingga pencerahan tercapai.

Lokāḥ Samastāḥ Sukhino Bhavantu,
Kadam Choeling Indonesia

The post LAPORAN TRIWULAN JULI s.d. SEPTEMBER 2023 appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

Laporan Tahun YWSN 2022

September 7, 2023 in Daily news, Kadamchoeling, KCI, laporan tahunan 2022, Yayasan Wilwatikta Sriphala Nusantara, YWSN

Turut bermudita atas semangat, tekad, upaya, dan keyakinan yang telah kita curahkan segenap hati sehingga aktivitas luas yayasan dalam memberi manfaat bagi banyak makhluk bisa berlanjut hingga hari ini.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada para guru spiritual yang senantiasa memberikan hujan berkahnya tanpa henti. Terima kasih juga kepada seluruh anggota KCI, Tim Manajemen, para donatur, dan semua pihak yang telah mendukung segala aktivitas YWSN & KCI baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Mari bermudita dan terus satukan cita untuk mengarungi perjalanan ini dengan baik di tahun-tahun yang akan datang!

The post Laporan Tahun YWSN 2022 appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

Umat Buddha Berlindung pada Jimat? Apakah Sesuai Dharma?

August 31, 2023 in Amulet, Artikel Dharma, buddha, Daily news, Dharma, Jimat, Jimat perlindungan, Paritta, sangha, Triratna

Oleh Praviravara Jayawardhana

Jenis-Jenis Praktisi Buddhis


Pannàdhikànam hi saddhà mandà hoti pannà tikkhà;
Saddhàdhikànam pannà majjhimà hoti saddhà balavà;
Viriyàdhikànam saddhà-pannà mandà viriyaÿ balavam.
Bakal Buddha Pannàdhika, kebijaksanaan kuat namun keyakinan lemah.
Bakal Buddha Saddhàdhika, kebijaksanaan madya namun keyakinan kuat.
Bakal Buddha Viriyàdhika, kebijaksanaan dan keyakinan lemah namun usaha kuat.
Riwayat Agung Para Buddha

Secara umum, kitab suci dan komentar para Guru menjelaskan bahwa praktisi yang sedang berjuang menapaki jalan Kebuddhaan dapat dibagi menjadi tiga jenis, antara lain:

  1. Praktisi yang menempuh jalan kebijaksanaan
  2. Praktisi yang menempuh jalan keyakinan
  3. Praktisi yang menempuh jalan usaha.

Perbedaan ketiga praktisi tersebut hanya terdapat dalam proses atau metode saja. Ketika mereka mencapai Kebuddhaan, mereka semua sama dalam hal kebijaksanaan, keyakinan, dan usaha. Tidak dapat disebutkan Buddha mana yang lebih mulia daripada yang lainnya dalam segala aspek.

Lebih lanjut, jenis-jenis praktisi Buddhis juga disebutkan oleh A.B. Griswold dalam Doctrines and Reminders of Theravada Buddhism: 

“Di dalam Theravada sendiri, terdapat dua jenis umat Buddha yang sangat berbeda sekali: yang rasional dan yang mengandalkan keyakinan.” 

Ajaran Buddha memang bersifat universal, bisa memberikan manfaat kepada berbagai jenis orang melalui beragam pendekatan. Adanya tradisi Buddhis berperan untuk memfasilitasi berbagai jenis pendekatan tersebut. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, keyakinan umat terhadap kemahatahuan Buddha dan sifat Dharma yang universal makin merosot. Akibatnya, pemaknaan terhadap Dharma menyempit mengikuti “cetakan” paham positivisme Barat yang lebih populer. Pandangan terhadap perbedaan tradisi pun ikut menyempit sampai-sampai muncul pemikiran bahwa tradisi tertentu adalah yang paling benar, sementara yang beda pendekatan dianggap sesat.  

Fenomena Krisis Keyakinan


“Keyakinan adalah kendaraan terbaik.
Melalui keyakinan, Anda akan dibimbing dan pasti muncul.
Oleh karena itu, orang-orang cerdas mengandalkan keyakinan.
Sifat-sifat baik tidak tumbuh pada orang yang tidak berkeyakinan,
Sama seperti kecambah hijau [tidak tumbuh] dari benih yang hangus oleh api.”
—Dasa-dharmaka-sutra

Berdasarkan klasifikasi dalam Abhidharma-samuccaya, keyakinan (B. Sanskerta: Sradha) merupakan salah satu dari 11 faktor mental bajik. 

Sebagaimana yang dikatakan dalam Dasa-dharmaka-sutra di atas, kebajikan tidak akan tumbuh pada orang yang tidak memiliki keyakinan. Namun, sayangnya, di masa ini, keyakinan menjadi sesuatu yang sangat langka dan susah sekali ditemukan. Keyakinan disalahpahami sebagai kepercayaan buta dan bertentangan dengan logika. Pandangan ini sangat berbeda dengan definisi “keyakinan” dalam Buddhadharma.

Faktor mental bajik keyakinan muncul serta-merta. Kontemplasi serta rasionalitas menjadi faktor yang sangat penting dalam proses munculnya keyakinan.  Keyakinan baru bisa tumbuh di batin seseorang ketika ia mempelajari dan memahami secara rinci kualitas objek yang diyakini. Agar bisa memiliki keyakinan terhadap Buddha, perlu upaya untuk mempelajari dan memahami kualitas Buddha, lalu merenungkannya berulang-ulang hingga keyakinan itu mengakar kuat di dalam batin. Ini jelas tidak sama dengan kepercayaan buta yang dibuat-buat. 

Berdasarkan pemahamannya tersebut, dapat disimpulkan bahwa merosotnya keyakinan di masa sekarang adalah karena orang-orang kurang mempelajari, merenungkan, dan memeditasikan kualitas Buddha.. Akibatnya, sikap tidak hormat terhadap objek suci seperti penginjakan rupang Buddha atau penyalahgunaaan situs dan objek suci semakin marak, lalu dianggap sebagai tindakan biasa oleh umat Buddha sendiri. 

Bukan hanya rupang dan teks yang kehilangan makna, jimat-jimat perlindungan yang merepresentasikan Triratna juga ikut dipertanyakan keabsahannya akibat kurangnya pengetahuan tentang bentuk perlindungan, cara berlindung, hingga makna keyakinan itu sendiri.

Trisarana Sebagai Basis Perlindungan Jimat 


“Tidak ada jaminan bahwa setelah meninggal, engkau tidak akan terlahir di alam rendah. Namun Sang Triratna pasti bisa melindungimu dari kemungkinan menakutkan itu. Oleh sebab itu, Trisarana-lah sepenuhnya dan jangan biarkan sila-sila Trisarana merosot. Ini bergantung pada perenungan secara menyeluruh akan karma hitam dan putih, serta akibat-akibatnya.“

—Je Tsongkhapa, dikutip dari Baris-Baris Pengalaman

Seorang Buddhis mencari perlindungan setidaknya karena dua sebab, yakni takut terhadap penderitaan dan yakin pada objek perlindungan (Triratna). Dua sebab ini adalah dasar dari banyaknya penggunaan jimat perlindungan. Agar penggunaan jimat menjadi sebuah praktik Buddhis, maka Trisarana haruslah menjadi basis.

Lebih lanjut, dalam Empat Kebenaran Arya yang pertama, disebutkan tiga macam dukkha yang menghantui kita di samsara ini, yakni Dukkha-Dukkha, Viparinama Dukkha, dan Sankhara Dukkha. Jenis-jenis dukkha inilah yang menjadi basis dari ketakutan kita, salah satu sebab kita mencari perlindungan. Apa atau siapa yang bisa melindungi kita? Jawabannya adalah Triratna yang sudah bebas dari penderitaan-penderitaan tersebut.

Seperti orang yang menderita penyakit serius yang membutuhkan bantuan dari dokter, obat, dan perawat; kita juga perlu berlindung pada ketiga objek Trisarana untuk bisa terbebas dari penderitaan samsara. Kita membutuhkan Buddha, sang penyembuh yang menunjukkan “penyakit” kita serta Jalan Pembebasan untuk mengobatinya. Kita membutuhkan Dharma,  Tahapan Jalan untuk Ketiga Jenis Praktisi yang berfungsi sebagai obat untuk penderitaan kita. Kita juga membutuhkan Sangha, yang merupakan perawat yang praktik Dharma kita. 

Kendati demikian, untuk bisa terbebas dari bahaya-bahaya duniawi, kita bisa mengandalkan perlindungan dari salah satu objek Triratna saja. Hal ini dijelaskan oleh Phabongkha Rinpoche dalam Pembebasan di Tangan Kita Jilid 2:

“Kita tidak memerlukan ketiga objek Trisarana secara keseluruhan untuk dapat terselamatkan dari bahaya yang tiba-tiba menghadang. Masing-masing objek secara individual mempunyai kemampuan untuk menyelamatkan kita. Akan tetapi, kita tetap membutuhkan ketiga unsur dari Triratna agar terselamatkan dari alam-alam rendah dan keseluruhan samsara.”

Banyak catatan tentang bagaimana seseorang bisa selamat dari bahaya duniawi dengan mengandalkan salah satu objek Trisarana. Alkisah, ada seseorang di Tibet yang diterkam oleh seekor harimau. Tetapi, ketika ia berdoa kepada Arya Avalokiteśvara, harimau itu seketika melepaskannya dan pergi meninggalkannya.

Catatan lain mengisahkan seorang biksu tak berumah yang mencapai tingkat Arahat bernama Pūrṇa. Pada saat saudara-saudara Pūrṇa beserta beberapa orang pedagang pergi ke laut untuk mencari cendana gośirṣa, makhluk halus pelindung cendana berusaha menghancurkan kapal mereka. Saudara-saudara Pūrṇa berdoa kepada Pūrṇa untuk memohon bantuan dan akhirnya mereka terselamatkan dari bahaya di laut.

Kisah berikutnya adalah tentang seorang lelaki yang dihukum dan dikirim ke kuburan tempat setan-setan pemakan daging. Tidak ada seorang pun berhasil hidup setelah dikirim ke tempat itu. Namun, karena orang ini meletakkan sepotong kain potongan jubah biksu di atas kepalanya dan mengucapkan bait Trisarana, setan-setan tak dapat menyakitinya.

Perlindungan terhadap satu Ratna untuk mengatasi penderitaan duniawi ini memungkinkan adanya perlindungan dengan objek-objek tertentu yang melambangkan salah satu Ratna. 

Misalnya, dalam beberapa teks Pali, banyak dikisahkan tentang praktik perlindungan dengan metode pengulangan bait tertentu, yaitu Paritta. Secara harfiah, kata “Paritta” berarti “perlindungan”. Isinya adalah kata-kata Dharma sehingga Paritta jelas mewakili Ratna Dharma. Praktik pelafalan Paritta ini banyak dilakukan umat Buddha sebagai bagian dari puja bakti rutin maupun untuk melewati situasi sulit tertentu, misalnya Paritta Angulimala yang dibacakan untuk menolong ibu melahirkan dan Paritta Ratana untuk menghalau penyakit.

Bentuk lain perlindungan melalui simbol salah satu Ratna bisa ditemukan di Thailand, yaitu pemakaian amulet berbentuk liontin Buddha. Amulet yang mewakili Ratna Buddha ini berfungsi sebagai perlindungan dari penderitaan duniawi, misalnya kemiskinan dan nasib buruk. 

Berbagai teks Tantra juga menyebutkan praktik perlindungan dalam bentuk jimat. Jimat ini berisi Sutra atau Mantra sehingga tergolong sebagai perlambang kualitas Ratna Dharma. Contoh penjelasannya adalah sebagai berikut:

“Jika engkau mengikatkan Sutra ini di atas sebuah panji kemenangan, atau mengalungkan di lehermu, engkau akan terlindung dari pemimpin manusia atau prajurit hebat mana pun. Para Buddha dan Bodhisattva akan mewujud dalam bentuk wanita cantik di harapanmu dan memberkahimu dengan keberanian dan perlindungan. Engkau akan berjaya dan mampu menaklukkan semua lawan.”
–Arya Dhavaja Agrakeyur Namadharani

“Dengan hanya memegangnya di tangan mereka, mereka akan mengingat kehidupan lampau. Setelah seratus ribu pelafalan, mereka akan menjadi terpelajar. Setelah dua ratus ribu pelafalan, mereka akan menjadi Vidyadhara. Setelah tiga ratus ribu pelafalan, mereka akan melihat wajah Mañjuśrī.”
–Mañjuśrī­bhaṭṭārakasya­ prajñā­buddhi­vardhana

Pendekatan Kontemplatif dalam Penggunaan Jimat 


Bagi para praktisi yang menggunakan pendekatan kontemplatif, penggunaan objek perlindungan seperti Paritta, amulet, atau jimat pada dasarnya dapat dipandang sebagai upaya kausalya untuk membantu orang-orang mengakses perlindungan tertinggi yang sesungguhnya, yakni realisasi atas makna-makna yang terkandung dalam ajaran Buddha (Dharma). 

“Berkaitan dengan Permata Dharma, Permata Dharma tertinggi adalah yang manapun dari dua kebenaran purifikasi (Kebenaran Arya tentang Terhentinya Dukkha dan Kebenaran Arya Tentang Jalan) yang ada dalam batin seorang Ārya. Kumpulan dari kata-kata tertulis seperti dua belas kategori ajaran mewakili Permata Dharma yang konvensional.”
–Pembebasan di Tangan Kita Jld. 2

Dharma adalah perlindungan tertinggi yang sesungguhnya. Inilah yang mendasari cara pandang praktisi yang mengandalkan pendekatan kontemplatif terhadap pemakaian Paritta, amulet, ataupun jimat. 

Sebagai contoh, Paritta Buddhanussati merupakan bait-bait yang dilafalkan untuk mengingat kualitas Buddha. Jika dibandingkan, Paritta ini memiliki fungsi yang sama dengan liontin/amulet berbentuk Buddha. Keduanya dipandang sebagai sarana untuk merenungkan kualitas Buddha yang melindungi diri kita. 

Sama halnya dengan para praktisi yang menggunakan mantra sebagai perlindungan. Dalam terjemahan harfiah bahasa Sanskerta, mantra berarti “melindungi batin dan pikiran dari klesha”. Kebenaran Arya Kedua menyatakan bahwa klesha adalah sumber penderitaan. Maka itu, untuk menghilangkan penderitaan, kita perlu melindungi batin dan pikiran dari hinggapan klesha. Mengingat mantra bisa melindungi pikiran dari klesha, maka mantra dapat menjadi sarana perlindungan. 

Untuk menjadi seorang praktisi Buddhis yang holistik, kita tidak boleh seperti katak dalam tempurung, menutup diri terhadap beragam kemungkinan yang ada tanpa perenungan lebih lanjut. Sikap tertutup seperti itu hanya akan mengkerdilkan ajaran Buddha. Kata “Dharma” punya makna “kebenaran universal”, artinya Dharma yang diajarkan oleh Buddha mencakup kebenaran yang berlaku di seluruh semesta. Jika kita belum mampu menjangkau seluruh semesta, bagaimana mungkin seluruh Dharma bisa dijangkau oleh pikiran kita?

Misalnya, ada seseorang yang hanya mau memegang bait berikut:

Sabbe sattā kammassakā kamma-dāyādā kamma-yonī kamma-bandhū kamma-paṭisaraṇā. Yaṁ kammaṁ karissanti kalyāṇaṁ vā pāpakaṁ vā tassa dāyādā bhavissanti.

Semua makhluk memiliki karmanya sendiri, mewarisi karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri, terlindung oleh karmanya sendiri. Apa pun karma yang diperbuatnya, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisinya.

Jika kemudian orang ini menampik pembacaan Paritta, pembacaan mantra, serta penggunaan jimat, dan mantra, artinya ia menyangkal keseluruhan ajaran Buddha yang begitu luas dan mengkerdilkan ajaran tersebut menjadi satu bait saja. Hal ini tidak ada bedanya dengan radikalisme agama.

Selanjutnya, dalam hukum sebab akibat yang saling bergantungan, terdapat dua elemen, yaitu  dualitas objek dan subjek. Baik objek maupun subjek tidak dapat berdiri sendiri. Sebagai contoh, kita sebagai subjek yang melakukan karma butuh objek untuk melakukan karma tersebut. Jadi, dalam konteks ini, tidak valid bila kita mengatakan bahwa kita semata-mata dilindungi oleh karma kita sendiri..

Kalau kita memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan, kita mungkin akan menemukan kontradiksi pemahaman. Di satu sisi, orang mengatakan bahwa kita seharusnya hanya percaya hukum karma dan tak bisa mengandalkan perlindungan dari orang lain. Namun, jika dipahami benar-benar, ketika kita bicara hukum karma, kita bicara hukum sebab akibat, maka mau tidak mau mau kita akan bicara tentang kausalitas dan dualitas. Artinya, subjek bergantung pada objek dan objek bergantung pada subjek.

Jika kita bilang dilindungi karma, akan timbul pertanyaan: karma yang kita lakukan pada objek yang mana? Kita tidak bisa memutus rantai hubungan kausalitas. Contohnya, ada orang yang tidak ingin miskin dan hanya ingin mengandalkan karmanya saja. Bagaimana bisa? Orang itu tetap butuh objek untuk menghimpun sebab bebas dari kemiskinan, misalnya berdana kepada pengemis. Ketika kita berdana pada pengemis dan berharap kita bebas dari kemiskinan, artinya kita telah bergantung pada si pengemis supaya melindungi kita dari kemiskinan. Subjek dan objek ini tidak bisa diputus dari konsep kausalitas. Dengan pemahaman dan analogi yang sama, kita tidak bisa bilang bahwa kita tidak bisa berlindung pada Buddha.

“‘Segala sesuatu adalah sunya’ dan ‘dari [sebab] ini muncullah akibat itu’;
dua pernyataan ini saling melengkapi satu sama lain tanpa kontradiksi sama sekali.”
—Je Tsongkhapa, Pujian Terhadap Sebab Akibat yang Saling Bergantungan

Sekali lagi, kita butuh objek untuk membuat karma. Objek karma ini kualitasnya berbeda-beda. Misalnya, ketika kita berdana kepada orang yang memiliki sila dan kepada orang yang tidak memiliki sila, jelas kebajikan dari berdana kepada orang yang memiliki sila lebih besar dibanding berdana kepada orang yang tidak memiliki sila. 

Dengan analogi yang sama, kita juga bisa mengandalkan Buddha sebagai pelindung kita dan ini adalah suatu hal yang valid. Buddha berperan sebagai objek: ladang kebajikan untuk menghasilkan karma yang akan melindungi kita. Jadi, kita membutuhkan ladang kebajikan ini sebagai objek untuk menciptakan sebab karma yang akan melindungi diri kita.

Berangkat dari pemahaman tersebutlah, jimat perlindungan berisikan mantra inti kausalitas, hukum sebab akibat: OM YE DHARMA HETU. Dengan demikian, jimat perlindungan ada untuk mengingatkan kita terhadap hukum karma, hukum sebab akibat yang saling bergantungan, yang pada akhirnya mendorong efektivitas dari jimat itu sendiri. 

Kita juga bisa memahami bahwa objek perlindungan ataupun ladang kebajikan memiliki kemampuan untuk melindungi kita sampai suatu titik tertentu. Si pengemis memiliki kekuatan untuk melindungi kita sebagai objek karma baik. Biksu Sangha dan Buddha juga memiliki kekuatan untuk melindungi kita sebagai objek karma baik dan ladang kebajikan kita.

Kesimpulan


Objek perlindungan berupa jimat, amulet, paritta, mantra, dsb. memiliki kualitas untuk melindungi karena benda-benda tersebut mengandung perlambang setidaknya satu dari Triratna. Oleh karena itu, praktisi Buddhis yang kekuatan kontemplatifnya lemah dan kesulitan membangkitkan sikap berlindung dari perenungan tetap bisa mendapatkan manfaat dari objek-objek tersebut.

Paritta yang dibaca adalah tulisan suci ajaran Buddha dan jimat yang disimpan juga mengandung tulisan dan simbol-simbol suci tersebut. Objek perlindungan ini punya kualitas dengan porsi tertentu untuk bisa melindungi. Hal inilah yang menjadi basis latihan bagi praktisi yang mengandalkan keyakinan terhadap kualitas objek (Saddhàdhika).

Lebih lanjut, bagi praktisi yang mengandalkan kekuatan kontemplatif atau akal rasional (Pannàdhika) juga bisa mendapatkan manfaat dari seperti paritta, mantra, amulet, ataupun jimat dengan memandang objek-objek tersebut sebagai upaya kausalya untuk bisa mengakses perlindungan yang sesungguhnya, yakni realisasi Dharma. 

Oleh karena itu, praktik-praktik perlindungan terhadap paritta, mantra, amulet, ataupun jimat pada dasarnya memiliki prinsip kerja yang sama dan merupakan metode valid yang diajarkan oleh Buddha. Kebermanfaatannya harus dipandang secara multidimensi dan dipahami secara holistik. Praktisi Pannàdhika bisa menggunakan metode kontemplatif sedangkan para praktisi Saddhàdhika bisa mendapatkan manfaat dengan menggunakan keyakinan pada kualitas Triratna yang dilambangkan oleh sarana tersebut.

The post Umat Buddha Berlindung pada Jimat? Apakah Sesuai Dharma? appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

LAPORAN TRIWULAN APRIL – JUNI 2023

July 13, 2023 in Daily news, kadam choeling indonesia, Laporan Triwulan, MENUJU PERJALANAN TENGAH TAHUN 2023

MENUJU PERJALANAN TENGAH TAHUN 2023, APA SAJA YANG SUDAH KITA LAKUKAN?

Spesial dipersiapkan untuk kamu yang telah bersemangat dalam upaya kebajikan di bulan April-Juni 2023.

Lihat kembali destinasi yang telah kamu lalui selama 3 bulan terakhir ini dan bangkitkan mudita!

Yuk, cek laporannya segera

Semoga kita bisa melanjutkan perjalanan di tahun 2023 ini dengan semangat yang tidak pernah padam dan cinta kasih yang tanpa mengenal batas demi kebaikan makhluk ibu-ibu kita.

Lokāḥ Samastāḥ Sukhino Bhavantu,
Kadam Choeling Indonesia

The post LAPORAN TRIWULAN APRIL – JUNI 2023 appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

PROGRAM LADANG KEBAJIKAN

July 6, 2023 in Artikel Dharma, Berdana, buddha, Buddhadharma, Daily news, Dana, Dharma, Ladang Kebajikan, Praktik Berdana, Praktik Dana, Program Ladang Kebajikan, sangha, Triratna

“Berdana dan hidup sesuai dengan Dharma itulah berkah yang utama.”
– Maṅgala Suttā

Mengenal Praktik Dana 


Praktik dana tentunya menghasilkan buah karma baik. Buah karma baik ini pada gilirannya akan mendatangkan kebahagiaan sehari-hari bagi diri kita, seperti rezeki yang cukup, kesehatan yang baik, keluarga yang harmonis, tinggal di tempat yang layak, dan lain sebagainya. 

Pengantar ke Jalan Tengah menyatakan pentingnya praktik dana sebagai berikut:

“Untuk para perumah tangga, Para Sugata terutama memuji ketiga praktik, yaitu berdana dan selebihnya.”

Maksimalkan Kebahagiaanmu dengan Praktik Dana 


Praktik dana tentunya akan menghasilkan kebahagiaan. Namun, agar bisa memperoleh kebahagiaan yang maksimal, praktik dana yang kita lakukan tidaklah boleh sembarangan. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika hendak berpraktik dana, seperti memperhatikan objek penerima dana, sikap batin/motivasi praktik dana, serta frekuensi praktik dana yang kita lakukan. 


Objek penerima dana 


Objek penerima dana terbaik adalah ladang kebajikan. Dikatakan bahwa melakukan kebajikan terhadap ladang kebajikan bagaikan menanam benih yang selalu menghasilkan buah, bahkan ketika ditanam dengan cara yang tidak tepat karena ladang kebajikan itu sendiri adalah ladang yang luar biasa subur. 

Dalam Abhidharmakośakārikā, dijelaskan bahwa ladang kebajikan yang dimaksud adalah Triratna (Buddha, Dharma, dan Sangha) dan orang-orang yang sangat bajik, seperti mereka yang baru saja bangkit dari keadaan meditasi yang mendalam. 

Besarnya kebajikan yang dilakukan kepada ladang kebajikan juga dijelaskan pada Pembebasan di Tangan Kita Jilid 2 sebagai berikut. 

“Tindakan kemurahan hati yang dilakukan terhadap orang biasa, orang tua kita, seorang petapa saleh, seorang Bodhisattva perumah tangga atau Bodhisattva biksu, seorang Buddha, dan Guru kita, merupakan perbuatan-perbuatan yang secara berurutan mempunyai kekuatan lebih besar.”

Sikap batin/motivasi ketika berdana


Dengan praktik dana yang dilandaskan motivasi memberikan manfaat bagi banyak makhluk, kita bisa menghimpun kebajikan yang luar biasa besar dengan mudah. Seisi dunia menghormati sikap batin/motivasi ini, begitu juga para Buddha dan Bodhisattva. 

Kebajikan apapun yang diterima dari membangkitkan motivasi demi semua makhluk ini dikatakan sebagai berikut. 

“..pohon batin pencerahan tumbuh subur;
dan menghasilkan buah terus-menerus dan tidak akan mati.”
– Je Tsongkhapa

Frekuensi praktik dana


Sebagai umat Buddha, kita cenderung melakukan praktik dana pada saat tertentu saja, misalnya saat hari besar Buddhis, saat hendak melakukan pelimpahan jasa, saat berulang tahun, dan lain sebagainya. Padahal seyogyanya sebagai umat Buddha, kita perlu membiasakan diri berpraktik dana. 

Praktik dana yang dilakukan secara rutin, tidak peduli seberapapun besarnya, akan menghasilkan buah karma yang besar. Sebabnya, karma akan berkekuatan besar jika dilakukan terus-menerus.

Selain itu, praktik dana rutin juga bisa meninggalkan jejak karma yang dapat kita bawa dalam setiap kehidupan kita selanjutnya. Kelak pada kehidupan-kehidupan mendatang, diri kita akan memiliki kecenderungan sikap bermurah hati dan sudah terlatih dalam berpraktik dana. 

Hasil sementara dari praktik dana ini adalah kehidupan yang selalu berkecukupan dan berkelimpahan materi. Pada akhirnya, kita juga bisa setahap demi setahap menyempurnakan dana (dana paramita) dan pencapaian Kebuddhaan pun dapat kita raih. 

Menghimpun Kebajikan dengan Program Ladang Kebajikan 


Program Ladang Kebajikan hadir untuk memfasilitasi banyak orang untuk mempraktikkan dana unggul yang telah disebutkan di atas
. Dalam program ini, dana ditujukan kepada ladang kebajikan secara rutin tiap bulannya serta diarahkan untuk membawa kepentingan bagi Buddhadharma dan semua makhluk. 

Sejalan dengan namanya, Program Ladang Kebajikan mendorong Anda beserta kerabat dan relasi Anda untuk menyemai bibit-bibit kebajikan di ladang yang subur hingga pada akhirnya menghasilkan panen buah karma bajik yang melimpah dalam satu kali dana. 

Program Ladang Kebajikan

Program Ladang Kebajikan

Alokasi dana Program Ladang Kebajikan


Seluruh dana Program Ladang Kebajikan digunakan untuk menyokong Triratna, yakni:

  1. Buddha

  • Persembahan di altar Dharma Center Kadam Choeling Indonesia
  • Pembuatan tsa-tsa/stupika Buddha 
  1. Dharma

  • Pencetakan teks puja 
  • Pencetakan teks mantra
  1. Sangha

  • Biaya sandang, pangan, dan papan Sangha
  • Biaya pendidikan Sangha di dalam & luar negeri
  1. Infrastruktur dan Penunjang Lestarinya Dharma

  • Biaya operasional Dharma Center (listrik, sewa, air, dll)
  • Kegiatan pembelajaran Dharma

Sebanyak 20% dari dana program Ladang Kebajikan juga dialokasikan untuk biaya operasional Yayasan Wilwatikta Sriphala Nusantara yang berkomitmen untuk menyebarkan nilai Buddhisme, kemanusiaan, dan kebaikan ke penjuru Nusantara.

Selain bisa berdonasi kepada Triratna sekaligus, program Ladang Kebajikan juga memungkinkan Anda untuk mendukung kegiatan Program Pembelajaran Lamrim (PROLAM). PROLAM sendiri adalah program pembelajaran Dharma yang intensif, lengkap, dan berkelanjutan yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. 

Dengan demikian, selain mengumpulkan kebajikan yang sangat besar, Anda juga turut berkontribusi dalam pelestarian Buddhadharma di Indonesia melalui program Ladang Kebajikan. 

Cara Berpartisipasi


Jika Anda berminat untuk berdana ke Ladang Kebajikan yang subur, Anda dapat mendaftarkan diri serta mengajak kerabat dan relasi Anda mengikuti Program Ladang Kebajikan melalui tautan di bawah ini:

bit.ly/DaftarLadangKebajikan

Silahkan hubungi Call Center KCI (0815-7321-0000) untuk informasi lebih lanjut.

The post PROGRAM LADANG KEBAJIKAN appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

Doa Pelimpahan Jasa untuk Praktik Atthasila Mahayana Bulan Bajik Waisak 2023

May 11, 2023 in Artikel Dharma, Atthasila, Atthasila Mahayana, Bulan Bajik Waisak, Daily news, Doa Pelimpahan Jasa, Mahayana, Waisak

Kemurnian sila bagai panji kemenangan berkibar di puncak Gunung Meru,
harum semerbak kebajikan menyebar luas bagai angkasa,
dengan spontan mewujudkan umur panjang Guru Agung tanpa penyakit. 

Payung mulia kewaskitaan sila murni bertebaran oleh angin tiga latihan batin seluas angkasa,
mendatangkan keberuntungan bagi semesta alam negeri nusantara,
menghalau bencana dari penyakit dan tiga racun,
serta semua hutang karma terbayarkan. 

Permata tiga latihan batin menghiasi puncak Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya,
bagai mercusuar bagi para pengembara alam tak berkesudahan. 

Menghalau semua penderitaan para makhluk derita, dewa, dan para naga,
di mana pun berdiam di tanah desa mulia* ini,
maka lenyaplah penderitaan lima racun klesha. 

Maka datanglah kemuliaan Triratna bagi kita semua,
semoga naga dan dewata bersenang pesta pora pada perayaan kebajikan ini. 

Semoga negeri indah tanpa bencana, hujan turun pada waktunya,
semua preta dikenyangkan oleh buah kebajikan.

Semoga neraka menjadi sejuk bagai Alam Sukhāvatī,
para dewa dan naga, bhuta, kumbara, yaksa, kinara dan manusia dan bukan manusia,
menikmati jasa kebajikanku, bersukacita pada kebajikanku,
dan silaku murni menyejukkan hati semua makhluk. 

Datanglah berkah mulia dan keberuntungan Triratna bagai samudra,
manusia para dewa naga dan semua bhuta dan semesta bergembira pada kebajikan ini. 

*) Desa Donomulyo

Disusun oleh Y.M. Suhu Bhadra Ruci pada 10 April 2023 di Venue Les Sablon pukul 00.36

Bait dedikasi ini dibacakan saat setiap usai pengambilan sila pagi hari dan saat dedikasi pada malam hari.

Selain atthasila Mahayana, ada juga rangkaian agenda Bulan Bajik Waisak lainnya yang bisa diakses di sini. 

Simak juga pesan Waisak 2023 dari Y.M. Suhu Bhadra Ruci di sini!

The post Doa Pelimpahan Jasa untuk Praktik Atthasila Mahayana Bulan Bajik Waisak 2023 appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

Waisak 2023: Kesejahteraan Dunia Melalui Kebajikan Bersama

May 11, 2023 in Artikel Dharma, Bulan Bajik Waisak, Daily news, KCI, kesejahteraan dunia, Waisak, Y.M. Suhu Bhadra Ruci

Hari Waisak merupakan momen penting bagi umat Buddha. Lebih dari sekadar perayaan, kita seyogyanya memanfaatkan momen Waisak ini untuk menghimpun samudra kebajikan yang luas. Kita bisa mempersembahkan samudra kebajikan yang luas tersebut untuk kesehatan dan umur panjang Guru, memberikan energi positif bagi kesejahteraan dunia, serta perkembangan batin diri kita dan semua makhluk. 

Mari manfaatkan momen Waisak ini untuk mengumpulkan kebajikan ekstensif laksana samudra luas! Berikut agenda kegiatan bajik di Bulan Bajik Waisak 2023 versi KCI.

Bulan Bajik Waisak, 6 Mei - 4 Juni 2023

Bulan Bajik Waisak
Kesejahteraan Dunia Melalui Kebajikan Bersama
6 Mei– 4 Juni 2023

  1. Mengambil Sila Uposatha Mahayana selama 6 Mei—4 Juni 2023
  2. Membaca & merenungkan manfaat bertumpu pada Guru Spiritual
  3. Membaca & merenungkan kebaikan Guru Spiritual
  4. Membaca kisah hidup Buddha atau Jataka Mala (min. 1 kali)
  5. Melafalkan mantra Tara Putih untuk umur panjang semua Guru (min. 100 mala):

Oṃ tāre tuttāre ture sarva guru daśadig āyusthira puṇya puṣṭiṃ kuru svāhā” 

  1. Mengikuti penghaturan persembahan 1000 gaṇacakra selama  masa pengumpulan (di masing-masing Dharma Center).
  2. Puja Tara min. 1 kali
  3. Melakukan fangsheng (min. 1 kali)

Daftarkan dirimu ke Call Center KCI (+628157321000) atau Gubernur Center masing-masing.

Simak pesan Waisak 2023 dari Y.M. Suhu Bhadra Ruci di sini!

Y.M. Suhu Bhadra Ruci juga menyusun Doa Pelimpahan Jasa untuk Praktik Atthasila Mahayana Bulan Waisak 2023 yang bisa diakses di sini.

The post Waisak 2023: Kesejahteraan Dunia Melalui Kebajikan Bersama appeared first on Kadam Choeling Indonesia.


Source: https://www.kadamchoeling.or.id/

Share and Enjoy !

Skip to toolbar